Ada Apa Sih di Museum Macan?

Assalamualaikum Wr. Wb.

Tanggal 8 Desember 2018 lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Museum Macan di Jakarta bersama rombongan Deklarasi Netizen MPR RI.

Ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan untuk saya, sebab Museum Macan merupakan museum terkeren yang pernah saya kunjungi. Dan melalui Rombongan deklarasi Netizen MPR RI, saya dan peserta lainnya mendapatkan tour khusus di dalam museum ini. 


Musem Macan Berlokasi di Kebon Jeruk, tepatnya AKR Tower Jakarta lantai M dan 6.

Lalu apa itu Museum Macan?

Museum Macan adalah Museum pertama di Indonesia yang menampilkan seni modern dan kontemporer dari Indonesia dan Internasional. Museum Macan Sendiri merupakan singkatan dari Museum Modern Art and Contemporary Art in Nusantara. Di Museum ini ada banyak sekali koleksi seni yang kece yang memiliki makna tersirat dari berbagai seniman dalam periode waktu yang sudah ditentukan. Maksudnya, museum ini akan menampilkan tema yang berbeda dari seniman yang berbeda beda disetiap periode waktu tertentu.


Kalau beberapa bulan lalu karya Yayoi Kusuma dengan tema “Life Is The Heart Of Rainbow” ditampilkan pada museum ini. Maka saat saya datang pada 8 Desember lalu karya Yayoi Kusuma sudah tidak ditampilkan lagi dan digantikan dengan karya dari 3 Seniman yang berbeda. Seniman Tersebut diantaranya ;

  1. Arahmaiani dengan tajuk “The Past Has Not Passed”
  2. Lee Mingwei dengan tajuk “Seven Stories”
  3. On Kawara dengan tajuk “One Million Years (reading)”
Karya dari ke-3 seniman itu akan ditampilkan sejak 17 Nov 2018 hingga 10 Maret 2019. So, setelah periode itu akan ada kejutan dari seniman lainnya di Museum Macan.

Untuk harga tiket masuk museum macan sendiri itu bergantung event yang sedang diadakan, soalnya museum macan terkadang tidak hanya sekedar untuk menampilkan karya seni yang ada. Tetapi terkadang ada event atau tour dan penampilan kolosal yang ditawarkan pada museum ini. 
Tetapi pada saat saya masuk tiket yang ditawarkan untuk dewasa itu seharga Rp90.000, Sepertinya ini merupakan tarif normal pada museum macan.

Peraturan di dalam Museum
Oh iya, Sebelum masuk ke Area Pameran,  Petugas Menjelaskan ke semua pengunjung baik rombongan ataupun umum tentang adanya peraturan yang harus kita taati loh, diantaranya ;
  1. Jangan menyentuh karya seni.
  2. Berbicaralah dengan lembut dan atur ponsel Anda ke mode senyap.
  3. Berjalanlah dengan tenang.
  4. Dilarang berlari di dalam Museum.
  5. Dilarang membawa makanan dan minuman ke dalam museum.
  6. Barang dengan ukuran diatas 24 x 24 x 15 cm harus disimpan di penitipan barang.
  7. Dilarang membawa segala jenis kamera termasuk DSLR, SLR, polaroid ataupun pocket dan dilarang menggunakan lampu flash.
  8. Hanya boleh memotret dengan ponsel.
  9. Krayon, spidol, arang, cat air, cat minyak dan benda tajam tidak diperbolehkan di area pameran.
  10. Dilarang membawa tripod, monopod ataupun tongsis.
  11. Dilarang bersandar pada dinding museum.
Kedengarannya ribet ya? udah dilarang ribut, dilarang bawa kamera, bahkan dilarang bawa tongsis.
Lalu, Untuk apa sih semua aturan-aturan itu?.
Peraturan-peraturan itu dibuat untuk mengantisipasi dan menjaga karya seni yang ada. Misalnya saja, Mengapa  ada larangan menggunakan tongsis?, tongsis dilarang sebab terkadang jika Orang berfoto dengan tongsis mereka terkesan melupakan apa saja yang ada di sekelilingnya dan itu berbahaya untuk koleksi yang ada.
Oke, Next ada apa aja sih didalam Museum itu?
Saya akan uraikan satu per satu karya tiap senimannya aja yah.
Yang pertama ada karya dari  seniman Indonesia yang cukup dikenal di kancah Global, Arahmaiani dengan tajuk “The Past Has Not Passed” atau “Masa lalu belumlah berlalu”. 
Tajuk ini merupakan pameran survei Arrahmaiani yang menampilkan karya yang dibuatnya dari tahun 1980an hingga kini.
Flag Project ( Photo by Suryani Palamui )

Karya pertama ketika saya masuk ke area pameran, saya disambut dengan Flag Project yang terdiri dari bendera dan tergantung di atas jalan masuk Ruang pameran. 

Flag Project ini sendiri adalah proyek berbasis komunitas yang pada awalnya dikembangkan oleh Arrahmaiani bersama dengan pesantren Amumarta setelah gempa besar di Yogyakarta pada tahun 2006 silam, dan kemudian diperluas ke berbagai komunitas lain dari berbagai belahan dunia dengan berbagai latar belakang, budaya, bahasa dan konteks sosial. Kolaborasi dengan berbagai komunitas ini dibuat untuk memanifestasikan keprihatinan pikiran dan harapan dalam bentuk teks yang dijahit ke sebuah bendera. Kata-katanya pun cukup unik di antaranya ada kata “kultur” dalam tulisan Arab. Kemudian ada juga kata “ojo dumeh”, “Justice”, “love “, “mabuhay” dan banyak lagi.

Nations For Sale

Karya berikutnya ada Nations for sale karya ini sih cukup instagramable karena dihiasi dengan instalasi yang cukup menarik, terdapat banyak kotak yang disusun dan berisi berbagai benda di antaranya pasir, air, kapsul, mainan perang-perangan, cermin dan lain-lain, lalu di tembok juga bertuliskan “for sale halal”. Cukup menarik yah.

Instalasi Nation for sale ini dibuat pada tahun 1996. Yang merupakan perwujudan pandangan Arahmaiani mengenai situasi sosial budaya Indonesia pada masa itu . Karya ini menyinggung tentang industri kebudayaan Indonesia yang didukung oleh investasi modal yang besar dengan menghalalkan segala cara. Hmmm… Menarik sekali yah.

A Piece Land For Sale

Beranjak dari Nations for sale, di sebelah nya ada A piece of Land for Sale. Instalasi ini cukup unik karena terdiri dari tanah yang tertempel di dinding dan ditumbuhi oleh padi, lalu di sudutnya terdapat tabung oksigen dan selang infus yang seakan-akan mengalirkan isinya ke tanah tersebut. Maksud dari karya ini sendiri cukup menarik, sebab merupakan kritisan dari komodikasi lahan besar-besaran yang merusak lingkungan.

Sejarah Performans Arahmaiani

Selanjutnya terdapat meja dengan beberapa LCD dan headphone. Meja ini menayangkan sejarah performans dari Arahmaiani, sebab aktivisme dan performans adalah fondasi dari praktik kesenian Arahmaiani. Meja ini menampilkan dokumentasi foto dan video ,tulisan dan buku catatan seniman serta kritik dan liputan untuk menggambarkan konteks sosial dan budaya yang terjadi ketika karya performance tersebut ditampilkan.

Waktu pertama kali nonton tayangannya sih, saya merasa cukup creepy dan ambigu😅. Tapi membaca keterangan yang ada, akhirnya saya dapat memahami maksud dari video-video itu.

I Love You (photo prestigeonline.com)

Berikutnya di sudut tembok terdapat bantal warna-warni yang besar menggantung dengan bertuliskan “I love you” dalam tulisan Arab yang merupakan karya arahmaiani untuk mempromosikan citra Islam yang damai ke dunia setelah serangan 9/11 dulu. (Saya dan teman saya lupa mengambil dokumentasi pribadi karya ini)

Salah satu sudut ruang pameran

Di berbagai dinding pula, terdapat banyak lukisan dan tulisan puitis yang sarat makna.

Burning Country (Photo by Suryani Palamui)

Selain beberapa instalasi karya Arahmaiani yang saya jelaskan diatas, masih cukup banyak lagi karya lainnya yang menjadi kritisan pikiran dari Arahmaiani diantaranya “Burning Country” Yang menjadi kritisan terhadap pembantaian etnis besar-besaran di Indonesia pada 1997 silam. Lalu ada pula “Wedding Party” yang merupakan gaun pernikahan dari berbagai bendera partai, “Breaking Words” Yang merupakan video abstrak, “Memory of Nature“, “Grey Paintings” , dan “11 June 2002”.

(Photo by Suryani Palamui)

Semua karya-karya tersebut sangat menakjubkan, yang menjadi cerminan sang seniman Indonesia terhadap perubahan kesadaran global dan telah membuat nama Indonesia harum di kacah seni Internasional.

Salah satu sudut dinding dengan kidung Arahmaiani

Museum ini benar – benar menakjubkan. Bahkan dindingnya pun sangat bersih dan unik, Itu sebabnya kita dilarang menyentuh ataupun bersandar di dinding.

Selain Karya-karya Arahmaiani ada juga nih karya dari seniman Internasional “ Lee Mingwei ” di bagian yang berbeda.

Salah Satu Karya Lee Mingwei

Karya dari Lee Mingwei tidak kalah unik dan menarik loh dari karya Arahmaiani. Apa aja sih?

Tunggu, post selanjutnya yah😊😊….(Bersambung)

– Raya Putra –
Please follow and like us:

24 komentar untuk “Ada Apa Sih di Museum Macan?”

  1. saya pun waktu ke museum macan sangat terkesima sm karya kayany yayoi kusuma. tp ada satu yg agak bikin takutka waktu ke sn itu pas dengar videony yg klo sy tdk salah ingat itu dia nyanyi lagu pengantar bunuh diri, pas dengarny langsung merinding sendiri walaupun ku nda ngerti maksud dan artinya apa

  2. Awalnya saya kira museum macan itu bermakna harafiah "macan" ternyata itu singkatan pale… Wkkwkwk
    .
    Kerennya di klo seniman bikin kritikan, karena dituang dalam sebuah karya. Bukan sekedar kritikan belaka yang berbocara dibelakang.. tapi diungkap secara tersirat dari karya karya yang dibuat.

    1. saya juga dulu sebelum tau museum macan berpikir begitu😆 saya kira ini seperti museum mainstream pada umumnya… Wah ternyata museum ini berbeda dan jd idaman anak muda banget deh kesini😁

  3. Berkunjung ke museum itu seolah memberi kita nuansa berbeda. Pikiran kita seakan dihempaskn ke alam lain. Huaaa…sayaji kapang di?

    Terus terang, saya baru mengetahui ada museum ini. Kemana saja ya selama ini. Padahal sudah sering ke Jakarta.

  4. Beruntung sekalika kurasa bisa masuk ke Museum MACAN. Selain gratis, kita bisa ngabadikan gambar video pake kamera pula. Fasilitas yang ndak semua orang bisa dapatkan, apalagi karena kita sama-sama diajak oleh panitia acara Deklarasi Netizen MPR RI 2018. Alhamdulillah. Gara-gara disini juga saya akhirnya jadi kenal sama Raya. Hehe.

  5. Asyik, ,Mantul.. Bisa berkunjung ke museum ini. .jadi penasaran mau ke sini, klw ke jkt ke tempat lain terus, ngak pernah ke sini. .Nih tempat rekomended bamget nih. .Pengen liat lngsung tuh bntal yg mmebentuk tukisan arab. .

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *