Information & Technology

Melihat Peluang dan Tantangan Ahli Hukum Dalam Perkembangan Teknologi

Hari Senin (25/1) kemarin. IDLC (Irma Devita Learning Center) mengadakan webinar yang bekerja sama dengan AMPUH UNHAS (Asosiasi Mahasiswa Hukum Perdata Fakultas Hukum Unhas) dan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, dengan tema dan topik yang sangat menarik.

Topik yang mereka angkat adalah “Inovasi di Bidang Legal Technology dan Financial Technology Sebagai Tantangan dan Peluang“.

Topik yang dibahas ini sangat menarik. Sebab lembaga-lembaga yang berfokus pada bidang hukum ini, malah mengangkat topik seputar teknologi, inovasi, bahkan finansial.

Yang orang-orang umum pikirkan mengenai hukum. Hukum dan ahlinya mungkin tidak memiliki keterkaitan dengan teknologi. Bahkan dikalangan mahasiswa hukum itu sendiri.

Padahal faktanya para ahli hukum justru akan tergerus oleh zaman apabila tidak mampu berinovasi dan menyeimbangkan diri dengan teknologi dan perkembangan zaman. Sebab saat ini, segala aspek kehidupan sudah tersentuh teknologi.

Inilah yang menjadi fokus pembahasan menarik dari webinar kemarin. Mahasiswa hukum juga harus menyadari perkembangan teknologi dan digitalisasi semua aspek kehidupan. Bahkan pada aspek hukum.

Hukum di Era Digital

Materi by https://irmadevita.com/

Irma Devita, selaku Founder dari IDLC kemarin membahas “Persiapan Notaris/PPAT yang Terampil di Era Digital”.

Kak Irma memulai pembahasannya mengenai perkembangan industri yang begitu pesat sejak tahun 1700an hingga sekarang.

Bahkan saat ini berbagai macam kebutuhan manusia telah banyak yang menerapkan teknologi. Internet dan dunia digital menjadi sarana interaksi dan transaksi.

Transaksi elektronik saat ini sudah menjadi hal yang umum. Bahkan tidak bisa kita hindari. Banyak data yang tersebar melalui internet. Dokumen, pesan, audio visual, dan transaksi keuangan semuanya dilakukan di Internet.

Transaksi Elektronik by https://irmadevita.com/

Transaksi elektronik tersebut juga tidak luput dari tindak kejahatan, bahkan sangat rentan. Jika melihat dari sisi ahli hukum, tentu digitalisasi aspek kehidupan ini justru menjadi sebuah peluang baru, dan hal yang baru yang juga perlu mendapatkan pengawasan dan dukungan hukum.

Melihat dari aspek Hukum sendiri. Produk-produk hukum pun sudah mulai mendapat digitalisasi. Produk yang didaftarkan oleh notaris/PPAT pada instansi tertentu juga tidak bisa menghindari digitalisasi.

Bukan cuman itu saja. Internet saat ini juga sudah mampu melakukan otomatisasi digital contract. Artificial Intelegence (AI) atau teknologi kecerdasan buatan manusia bahkan yang mengerjakan hal-hal ini.

Baker Hostetler di Amerika bahkan sudah memperkejakan 11 robot lawyer di seluruh cabang lawfirmnya di tiga benua. Apakah dengan hal ini, nasib SDM hukum akan terdistrupsi?

Apakah SDM di Bidang Hukum Bisa Digantikan Sepenuhnya?

Jika mengacu pada undang-undang ITE yang ada di Indonesia, tepatnya pasal 5 UU 11/2008 ayat 4. Tertulis bahwa surat beserta dokumennya, harus dibuat oleh notaris atau pejabat pembuat akta. Namun bukan berarti, para notaris bisa begitu saja aman dari ketidakpahaman teknologi.

Materi by https://irmadevita.com/

Justru saat ini, para notaris dan ahli hukum perlu memahami dunia digital. Sebab keberadaan UU ITE, dan perlindungan hukum terhadap aset atau data data digital mulai bermunculan.

Notaris/PPAT saat ini tidak hanya wajib ahli dalam bidang hukum teori dan praktik di bidang kenotariatan dan PPAT. Namun, juga harus mampu menggunakan segala perangkat yang dibutuhkan dalam menyelesaikan pekerjaannya sehari-hari.

Profesi baru dalam legality bahkan mulai bermunculan mengikuti perkembangan zaman ini. Seperti,  legal technologist, legal process analyst, legal hybrid, legal project manager, legal data scientist, legal management consultant, dan masih banyak lagi.

Peluang Pegiat Hukum Dalam Perkembangan Zaman

Berbicara soal peluang law dan perkembangan teknologi. Topik ini dipaparkan oleh bapak Prof. Dr. Anwar Borahima, S.H., M.H selaku Dewan Pembina AMPUH dan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin.

Bebicara soal peluang, seperti yang ada pada pembahasan sebelumnya. Saat ini kehidupan semua orang sudah merambah ke dunia digital. Banyak aspek yang sudah masuk, bahkan sulit terlepas dari digitalisasi. Baik itu komunikasi, pencarian informasi, pembuatan produk, bahkan transaksi jual beli.

Perkembangan Teknologi Dari Masa Ke Masa

Jika berbicara peluang Legal Technology yang ada di Indonesia. Tentu peluangnya sangatlah besar. Indonesia adalah negara dengan penduduk terbesar ke-4 di dunia dengan penduduk hampir 300 juta jiwa.

Indonesia juga masuk dalam negara dengan pengguna internet paling banyak dan teraktif di dunia. Pengguna internet di Indonesia hampir menyentuh angka 200 juta pengguna.

Peluang untuk Legal Technology begitu besar. Pengguna Internet di Indonesia begitu rentan dan membutuhkan ahli dan perlindungan hukum. Tentu sayang, jika peluang sebesar ini belum dikelola oleh ahli dari negara sendiri.

Konvergensi Perlindungan Data Pribadi

Dr. Maskun, S.H, LL.M selaku Ketua Program Studi S1 Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin membahas mengenai Konvergensi Approach Perlindungan Data Pribadi.

Sebelum itu, Dr. Maskun ini bisa menjadi contoh dari masuknya perkembangan teknologi dalam pendidikan hukum. Sebab beliau bahkan mengajarkan Telematika di di Fakultas Hukum, yang tentu hal tersebut biasanya hanya kita jumpai di jurusan eksakta.

Beliau menggaris bawahi beberapa hal seperti rawannya data informasi pengguna internet, khususnya di Indonesia saat ini. Hal itu bisa kita lihat dari kasus bobolnya data pengguna Tokopedia dan Bukalapak beberapa waktu lalu.

Padahal data yang ada pada aplikasi e-commerce seperti itu adalah data yang penting, bahkan rekening pribadi dan alamat lengkap pengguna juga ada di sana.

Jika hal itu tidak mendapat perlindungan hukum yang jelas atau tidakan dari pemerintah. Kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dalam memberikan pelayanan publik bisa hilang.

Cyber Security

Tidak jauh dari pembahasan sebelumnya mengenai rentannya data pengguna di Internet. Evandri G. Pantouw, S.H (CEO Indexalaw) memaparkan lebih dalam mengenai Cyber Security.

Pada zaman yang sudah serba digitalisasi, data menjadi hal yang penting. Data menjadi hal yang mendiskripsikan atau membuktikan diri kita yang tidak mungkin masuk fisiknya ke dalam digital.

Data bahkan disebut-sebut sebagi “the new oil“, bahan bakar khusus pengguna internet. Sehingga tidak heran jika bermunculan kasus jual-beli data oleh pihak ketiga.

Algoritma Pengiklanan di Facebook Memanfaatkan Data Pengguna

Berbagai hal di dunia digital menawarkan service (layanan) yang beragam dan memerlukan langganan. Semisal mau mendapat info terupdate newsletter kita harus subscribe. Bukan hanya itu, sekarang mendengarkan musik dan nonton film pun harus berlangganan.

Apapun yang kita akses, hampir menjadi hal yang wajib untuk Singn Up, Subsribe atau berlangganan. Terkadang kita bisa men-subscribe atau Login melalui satu data klik dari akun google. Yang pasti akun google ini menyimpan data utama kita yang juga berasal dari beragam aplikasi lainnya.

Pentingnya Cyber Security

Kondisi dunia digital seperti inilah yang membuat Cyber Security saat ini sangatlah penting. Sebab semua data masuk ke cloud aplikasi. Yang sangat sayang, saat ini tidak terdapat aturan kuat yang mengatur sistem cloud di Indonesia. Dan tentu membuat data pengguna di Indonesia sangatlah rentan.

Ruang lingkup yang ada pada Cyber Security mencakup perlindungan sistem, jaringan, dan program dari jangkauan pihak yang ingin mengakses informasi pengguna maupun menggunakannya.

Sehingga untuk menghadapi cyber crime, kita hanya bisa berwaspada terhadap aplikasi, dan data yang kita berikan di Internet. Sebaiknya kita menghindari aplikasi yang terlalu banyak meminta data pribadi. Provider internet saat ini sudah menggunakan algoritma dari apa yang biasa setiap pengguna di Internet lakukan.

Alur Digital Signature

Pengetahuan dan Cyber security menjadi hal yang perlu. Cyber Security saat inipun juga sudah banyak menerapkan sistem digital signature dalam penandatanganan berkas atau hal penting. Sistem digital signature jauh lebih aman dan ketat di bandingkan hanya sekedar menandatangani melalui electronic signature tanpa pengaman apapun, yang tentu tidak mendapat pengakuan dari UU ITE.

Digital Signature bukan hanya berkomponen tanda tangan elektronik semata, melainkan lengkap dengan pengenalan sidik jari, dan hash code.

DuitHape, Inovasi Baru Tanpa Perangkat dan Bebas Korupsi

Berbicara soal financial technology, saat ini kita sudah berhadapan dengan banyak sekali jenis fintech dalam kehidupan sehari-hari kita. Mulai dari belanja keperluan di online, memesan ojek online, hingga memesan makanan yang umumnya menggunakan fintech.

Pemanfaatan fintech rupanya tidak terbatas sampai di situ saja. Bahkan saat ini penerima bantuanpun bisa memanfaatkan teknologi finansial.

Tapi tentu, jika kita menggunakan fintech yang umumnya memerlukan perangkat atau smartphone. Penerima bantuan mungkin saja tidak merata dan tepat. sebab, banyak dari kriteria penerima bantuan yang tentu belum memiliki gawai. Belum lagi jika menggunakan gawai, hal ini sangat rentan dari tindakan korupsi dan kecurangan dari penyalur bantuan.

Apa itu DuitHape?

Untuk itu Sara Dhewanto, S.E., M.B.A selaku Founder & Managing Director Duithape, memperkenalkan fintech mereka bernama DuitHape.

Seperti yang Sara katakan “Sistem digital bisa menjadi alat penegakan hukum. Semakin analog semakin untraceable, semakin digital semakin traceable” sehingga kasus korupsi banyak terjadi di penyaluran bantuan yang masih bersistem analog.

Adapun fokus dari inovasi DuitHape ini adalah penyaluran bantuan kepada mereka yang tepat menerimanya. Dengan DuitHape penerima bantuan tidak perlu melalui proses birokrasi yang berbelit-belit.

Mereka tidak harus mempunyai smartphone, tanpa kartu, tanpa surat, dan tanpa bank. Sistem yang digunakan oleh DuitHape adalah sistem setor wajah dan memasukkan pin.

Caranya, penerima bantuan cukup datang dan melakukan scan wajah pada toko tempat mereka berbelanja menggunakana donasi yang sudah diberikan.

Para penerima bantuan pun tidak menerima barang donasi yang tertentu dan terbatas. Tetapi dengan sistem ini, mereka bisa membelanjakan kebutuhan mereka sendiri.

Tentu keberadaan DuitHape ini memberikan banyak kemudahan bagi semua pihak, baik pemerintah, penerima manfaat, dan toko yang bekerja sama.

Konklusi

Perkembangan teknologi yang semakin pesat menjadi hal yang pasti mempengaruhi semua aspek kehidupan. Semua orang harus mempersiapkan diri untuk menghadapi dunia yang penuh digitalisasi dan otomatisasi.

Para Pemateri Webinar

Webinar “Inovasi di Bidang Legal Technology dan Regulasi Technology Sebagai Sebuah Tantangan dan Peluang” dari IDLC ini benar-benar membuka wawasan kita untuk tidak terlena dengan apa yang sudah kita ketahui. Kita perlu sadar akan perkembangan yang ada di dunia dan berusaha berinovasi agar dapat mengikuti zaman.

Bukan hanya pegiat teknologi ataupun yang berbisnis di dalamnya yang harus berinovasi. Bahkan hukumpun harus mampu berinovasi dengan perkembangan zaman.

Termasuk kemampuan mawas diri yang harus kita miliki, agar terhindar dari segala bentuk kejahatan di Internet.

Donasi Gempa Sulawesi

Webinar ini juga mengajak anda untuk ikut berdonasi untuk saudara-saudara kita yang terkena bencana gempa di Sulawesi Barat. Donasi dapat disalurkan pada rekening berikut ;

BNI Tebet: 948460620, a/n Yayasan Nima Rafa

Contact Person

Gilang: +6281281676658, Dera: +62816106050

Ikuti akun media sosial Irma Devita Learning Center untuk mendapatkan beragam pengetahuan seputar hukum dan informasi penting lainnya :

Instagram: @idlc.id
Twitter: @idlc_id
YouTube: @IDLC ID
Line: @IDLC.ID
Facebook: @idlc.id
LinkedIn: @IDLC Irma Devita Learning Center
Podcast: IDLC ID (ngopi hukum)
WA: 087800099149

Please follow and like us:

6 Komentar

  1. Aku juga baru kemarin selesai ikut pelatihan keamanan siber selama 3 hari. Memang iya sih, sekarang semua lini studi saling terkait satu sama lain, saling beririsan, begitu juga aspek hukum, keuangan dan teknologi. Harus paham cara kerjanya, risiko dan konsekuensi hukumnya, termasuk aplikasi keuangan seperti fintech ini.

  2. Karena zaman sudah berubah dan lebih mengandalkan tekhnologi digital, maka semua sektor dan profesi harus bisa beradaptasi mengikuti perubahan.

    Btw DR.Maskun itu teman kuliahnya suamiku dulu, FH UH 94 😀

  3. Wah iya data pribadi nih rentan banget. Apalagi kadang harus upload KTP juga untuk mengunlock fitur tertentu. Harusnya super aman dong ya, jangan sampai jebol jebol lagi. Kasian data kita bisa diperjualbelikan dan digunakan sembarangan.

  4. semua memang saling terkait ya, perkembangan teknologi masuk dalam irisan apapun, terkait dengan apapun dan dibutuhkan dalam semua aspek. mungkin termasuk dalam aspek keuangan dan hukum. mari kita siapkan diri untuk menghadapi era digitalisasi agar menjadi pengguna lebih erdas termasuk dalam fintech

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow Me!
Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram